Pembelajaran Ramadhan dan Hikmah Virus Korona


Doc. KataData.co

Tiada kata yang pantas terucap selain lantunan syukur kepada Allah SWT, alhamdulillahirobilalamin. Karena dari rahmatNya lah, kita masih diberi kesempatan untuk bermuhasabah dan terus berbuat baik kepada sesama manusia.

Shalawat teriring salam tak lupa selalu terlimpah curahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, revolusioner terbaik manusia sepanjang zaman yang telah mengajak umatnya kepada jalan kebenaran yang diridhoi Allah SWT melalui agama Islam.

Terutama dari manfaat-manfaat yang terdapat pada pelaksanaan ibadah bulan Ramadhan yang sedang kita jalani, dimana bulan Ramadhan dianalogikan sebagai sebuah madrasah pendidikan bagi umat Islam untuk belajar sabar, menahan hawa nafsu, dan memperoleh beribu kebaikan darinya. Dan diharapkan ketika keluar dari bulan Ramadhan kita dapat meningkatkan iman dan taqwa kita selaras dengan teori pendidikan behavioristik yang menekankan adanya perubahan tingkah laku serta sesuai dengan tujuan dari puasa itu sendiri dalam Q.S. Al Baqarah : 183,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana yang telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa.

Baca juga: Ramadhan, Refleksi Meningkatkan Keimanan

Bulan Ramadhan tahun ini cukup berbeda jika dibandingkan dengan ramadhan yang telah kita lewati sebelumnya. Ujian besar bagi umat Islam berupa pandemi virus korona membuat nuansa bulan Ramadhan tahun ini tidak seperti bulan Ramadhan pada umumnya. Ujian tersebut menghadapkan umat manusia pada ketakutan, kekurangan harta, dan beberapa diantaranya harus kehilangan nyawa serta pembatasan aktivitas sosial sehingga kita perlu mengurangi ibadah di luar rumah sebagai bentuk memutus rantai penyebaran virus korona itu pada bulan Ramadhan lalu.

Jika kita melihat filosofi pohon, kita mendapat kesimpulan bahwa semakin tinggi pohon maka semakin besar terjangan angin yang akan menghampiri. Ujian virus korona tidak lain adalah terjangan bagi umat manusia yang mana hakikat kehidupan tidak akan lepas dari sebuah ujian. Di dalam Al Quran, kita telah diberikan petunjuk oleh Allah SWT untuk selalu menjadikan shalat dan kesabaran sebagai jalan keluar dari berbagai masalah sebagaimana telah disebutkan dalam Q.S. Al Baqarah ayat 153,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ
Hai orang-orang yang beriman mintalah pertolongan dengan shalat dan sabar. Sungguh Allah beserta orang-orang yang sabar

Selain sebagai ujian yang perlu disikapi dengan kesabaran, pandemi virus korona juga dapat diartikan sebagai sebuah peringatan. Manusia bahkan umat Islam terkadang banyak yang lupa bahwa ada batasan antara mahram dan yang bukan mahram. Kita tidak boleh bersentuhan kulit dengan lawan jenis selain dari mahram. Mahram itu bisa disebabkan karena beberapa hal seperti keturunan, persusuan dan pernikahan.
Namun sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari contoh kecil pelanggaran dari larangan tersebut seperti lelaki dan perempuan yang bukan mahram saling bersalaman.

Baca juga: Dunia Ibarat Air

Dengan adanya pandemi virus korona, kita diingatkan untuk menjaga jarak fisik agar tidak tertular virus korona. Hal itu tidak lain bisa diartikan sebagai sebuah peringatan agar kita tidak larut dalam perbuatan dosa.

Selanjutnya dengan adanya virus korona, kita diingatkan untuk selalu hidup bersih dan sehat. Manusia secara tidak sadar selalu mengotori bumi contoh kecilnya seperti penggunaan kendaraan bermotor yang mana asapnya mengotori udara di bumi. Asap-asap dari kendaraan bermotor tersebut naik ke atas dan membuat suhu bumi semakin panas, hal ini lama-kelamaan membuat lapisan ozon sebagai bungkus pelindung bumi menipis karena terlalu banyak polusi udara. Dengan banyaknya manusia yang tinggal di rumah kita setidaknya telah mengurangi penggunaan kendaraan bermotor dan secara langsung berdampak baik pada udara dan lapisan ozon.

Hal itu semua sesuai dengan kaidah selalu ada hikmah di balik musibah. Maka sebagai orang yang beriman sudah sepatutnya kita memasrahkan diri dan mengembalikan setiap urusan dan masalah kepada Allah SWT,
Sesungguhnya kami milik Allah dan hanya kepada Nya lah kami kembali.
Dengan melewati pendidikan madrasah bulan Ramadhan sekaligus melalui ujian virus korona ini diharapkan kita dapat memaknainya sebagai bahan introspeksi diri dan tentunya dapat memberi kesadaran bagi kita untuk tidak berlebihan dalam berbuat. Amin.

Oleh: Firman Hardianto*
Mahasantri Pondok Pesantren Bina Insani Angkatan 2018
Lebih baru Lebih lama