E-Pusnas Sebagai Solusi Minimnya Budaya Literasi Indonesia


Doc. https://www.baantjer.org/

Literasi memiliki makna yang luas. Pada satu kondisi, budaya literasi dapat dikatakan sebagai budaya membaca buku. Membaca telah diperintahkan sejak masa awal perkembangan Islam, yaitu melalui Nabi Muhammad saw yang menerima wahyu pertama, surah Al Alaq ayat 1-5.

Menurut kompasiana.com Literasi adalah keberaksaraan, yaitu kemampuan membaca dan menulis. Budaya literasi dimaksudkan untuk melakukan kebiasaan berpikir yang diikuti proses membaca menulis, yang pada akhirnya apa yang dilakukan dalam proses kegiatan tersebut menciptakan karya. Selain membaca, literasi menuntut untuk menciptakan karya sebagai proses akhir kegiatan literasi.

Meski telah diperintahkan melalui nasihat agama, budaya literasi masih tergolong lemah di Indonesia. Menurut Lukman Solikhin, peneliti di Pusat Penelitia Kebijakan dan Kebudayaan, menjelaskan hasil Indeks Alibaca Nasional masuk dalam kategori rendah berada di angka 37,32 pada 2019. Kurangnya minat baca menjadi salah satu masalah yang cukup berpengaruh terhadap perkembangan keilmuan dalam negeri. Pasalnya, membaca merupakan tahap awal sebelum akhirnya melakukan proses mencipta karya. Jika minat baca saja masih kurang, maka proses mencipta tentu akan berada pada angka yang rendah pula. Padahal Indonesia membutuhkan banyak pencipta karya sebagai modal untuk meningkatkan taraf keilmuan dalam negeri.

Baca juga: Distorsi Pendidikan Karakter di Sekolah

Penyebab Rendahnya Budaya Literasi
Rendahnya budaya literasi disebabkan karena masyarakat Indonesia masih didominasi oleh budaya tutur. Lebih mendahulukan apa yang disampaikan oleh orang yang paham, daripada mencari tahu melalui literatur. Akibat dari hal ini adalah terciptanya pemikiran-pemikiran saklek yang membuat orang saling menyalahkan karena pengetahuan yang didapat tidak tuntas. Berbagai perbedaan pendapat terdapat di setiap bidang di dunia, tapi kalau hanya satu hal yang diketahui melalui budaya tutur tersebut maka akan timbul saling menyalahkan karena kurang pengetahuan itu sendiri.
Hal lain penyebab minimnya budaya literasi adalah Indonesia terlalu cepat alih teknologi. Pada faktanya, Indonesia belum menuntaskan budaya literasi buku ketika era teknologi di mulai. Hal ini menyebabkan berbagai kalangan lebih tertarik pada gadget dengan berbagai kemudahan yang diberikan dibandingkan membaca buku.

E-Pusnas Solusi Literasi
Saat ini pengaruh internet telah merambah ke seluruh negeri tak terkecuali di desa. Tercatat dalam data Perpustakaan Nasional sebanyak 132,7 juta orang Indonesia pada 2016 tercatat sebagai pengguna internet dan 86,3 juta jiwa berada di Jawa. Melihat kondisi ini, Perpustakaan Indonesia menciptakan Ibasis digital melalui aplikasi e-Pusnas dengan multy operating system dengan multy device tablet atau smart phone. Pada mei 2017, e-pusnas memiliki 12834 judul dengan 125875 eksemplar buku aplikasi e-Pusnas yang menjadi koleksi Perpustakan Nasional.

Baca juga: Merancang Ekonomi Digital 2020-2024

Dalam era digital seperti saat ini, langkah yang ditempuh pemerintah cukup baik dalam meningkatkan minat baca. Pasalnya, generasi masa kini cenderung mencari literatur dari internet karena lebih mudah didapatkan. E-pusnas dapat menjadi solusi bagi minimnya tingkat baca masyarakat Indonesia.

Solusi tersebut menjadi perkembangan yang baik bagi budaya literasi nasional. Karena pada dasarnya, pengetahuan didapat karena membaca. Buku merupakan jendela dunia. Jendela dunia perlu dibuka agar pemikiran-pemikiran dapat terbuka dan tidak saklek pada satu hal. Andil pemerintah dalam meningkatkan tingkat minat baca sangat besar. Pemerintah dapat memberikan edukasi terkait pentingnya membaca, mendirikan perpustakaan-perpustakaan umum di tingkat yang paling rendah hingga tingkat nasional.
Wallahu a’lam Bi ashhawwab.

Oleh : Firman Hardianto
Mahasantri Pondok Pesantren Bina Insani Angkatan 2018

Lebih baru Lebih lama