Media Sosial Melahirkan Mahluk Individual


Jumlah pengguna internet di Indonesia setiap tahun selalu mengalami peningkatan. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyebutkan, jumlah pengguna internet di Indoensia pada tahun 2016 mencapai 132,7 juta orang. Jumlah itu pun semakin bertambah. Tahun 2017 menjadi 143,26 juta orang dan tahun 2018 naik menjadi 171,17 orang.

Dari sekian banyak pengguna internet, media sosial menjadi konten primadona. Sebanyak lebih dari 129,2 juta orang Indonesia menggunakan media sosial dalam aktivitas sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat dapat memanfaatkan perkembangan teknologi sebagai sarana komunikasi. 

Media sosial memang mempunyai peran penting dalam proses kehidupan masyarakat. Kemudahan berkomunikasi dan berinterkasi dapat kita rasakan bersama. Benteng ruang dan waktu telah hancur, tidak menjadi penghalang lagi.  Dengan media sosial, proses interaksi sosial dapat berjalan meski tanpa pertemuan antarindividu dalam satu ruang tertentu.

Kondisi demikian tentu berbeda dengan zaman dahulu. Jika ingin berkomunikasi dan bertukar kabar, masyarakat abad ke-17 sampai awal 19 masih menggunakan tradisi konvensional seperti surat pos dan merpati pos. Meski bertanya kondisi, hal semacam itu membutuhkan waktu sangat lama. Berbeda dengan sekarang, kemajuan teknologi mengubah tradisi komunikasi menjadi lebih mudah dan cepat.

Belenggu Internet

Media sosial sejatinya tidak hanya untuk berkomunikasi secara personal saja. Tetapi melibatkan banyak pengguna yang dapat berinteraksi lebih luas lagi. Selain berkirim pesan teks, gambar, vidio, maupun file lain, pengguna juga dapat saling membagikan postingan dan memberikan like serta komentar.

Bermain di dunia maya seperti Facebook, Instagram, Twitter, dan Youtube tentu menjadi hal asyik dan seru. Layanan dan fitur yang tersedia juga semakin menarik perhatian setelah pengelola meng-upgrade dan menambahkan konten baru. Maka tak heran jika pengguna sulit melepaskan diri dari belenggu smartphone-nya.

Saking asyiknya, bahkan seseorang bisa merelakan waktunya berjam-jam untuk menikmati media sosial. Terbukti, Survei We Are Social yang bekerja sama dengan Hootsuite pada Januari 2018 mengungkapkan bahwa rata-rata masyarakat Indonesia menggunakan media sosial tiga jam 23 menit perhari. Belum lagi berselancar di internet yang memakan durasi waktu selama delapan jam 51 menit perhari.

Tidak masalah jika konten yang diakses memberikan wawasan atau informasi bermanfaat. Tetapi bagaimana jika yang diakses adalah konten-konten negatif seperti pornografi dan kekerasn? Apakah itu tidak membuang-buang waktu dan bahkan bisa meruasak moral? 

Lupa Dunia Nyata

Pada dasarnya terlalu asyik berinteraksi di media sosial dapat menyebabkan seseorang menjadi kecanduan. Sebagaimana teori Kimberly Young tentang internet addiction. Young menyebutkan, salah satu kategori pencandu internet adalah cyber relation ship addiction, yaitu seseorang yang hanyut dalam pertemanan di dunia maya.

Jika sudah demikian, daya kritis dan kepekaan seseorang terhadap kondisi sekitar akan berkurang. Kehidupan nyata menjadi kabur dan terabaikan. Karena orang itu sudah menemukan dunia baru penuh imajinasi yang lebih seru. Hal itu akan memberikan dampak psikologis berupa hasrat untuk selalu mencari kesenangan. 

Kondisi yang penulis takutkan ialah saat pencandu media sosial benar-benar lupa dengan kondisi sekitar. Dalam hal ini termasuk dialektika sosial dengan masyarakat di dunia nyata. Terlalu fokus dengan smartphone bahkan bisa membuat seseorang lupa dengan teman sekitar dan membuatnya menjadi mahluk individual. Sifat individual sering dijumpai ketika seseorang duduk menyendiri memegang ponsel dengan asyiknya.

Tentu kondisi ini sangat mengkhawatirkan. Media sosial yang seyogyanya berfungsi mempermudah komunukasi justru menjadi bumerang. Hal ini terjadi karena seseorang sudah terkena cyber relation ship addiction. Penggunaan media sosial yang tidak terkontrol membuat seseorang merasa ketergantungan. Hingga akhirnya, seorang pencandu lebih sering berkomunikasi di dunia maya daripada berinteraksi langusng di dunia nyata.

Fenomena seperti ini memang tidak bisa dipungkiri lagi. Meskipun peradaban sudah semakin canggih setelah adanya internet, namun perlu juga mempertahankan hubungan di dunia nyata. Karena itulah realitas kehidupan sosial yang seharusnya dijalankan, bukan imajinatif yang terkadang penuh dengan kepalsuan. 

Mengatasi hal itu, tentu butuh kontrol serius dalam penggunaan smartphone. Orang tua dapat memantau dan membatasi para anaknya dalam menggunakan media sosial. Jangan sampai terus-terusan berada di depan layar sampai melupakan kewajiban. Selain itu, lembaga sosial pemerintah perlu mengadakan sosialisasi dan penyuluhan tentang bahaya penggunaan internet yang menghabiskan durasi waktu lama. Karena sebagai mahluk sosial kita harus sadar pentingnya menjaga komunikasi dan interaksi sosial dalam kehidupan bermasyarakat. 

Arus globalisasi memang begitu kejam. Media sosial dapat menciptakan mahluk individual jika seseorang tidak bisa menggunakannya dengan bijak. Cyber relation ship addiction dapat menyebabkan seseorang betah duduk menyendiri berjam-jam di depan smartphone. Jika sudah seperti ini, media sosial telah menghancurkan komunkasi langsung di kehidupan nyata.

Atau barangkali media sosial memang diciptakan untuk melahirkan mahluk individual?
[Mahfud]

Tulisan ini pernah dimuat di Harian Duta Masyarakat Edisi 5 Oktober 2019 
Mahfud Al- Buchori

Penulis lepas, tinggal dan berkarya di Semarang

Lebih baru Lebih lama